Selasa, 21 Februari 2017

Menjadi Insan Terdidik dan Mengabdi Sepenuhnya Untuk Indonesia

Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana tapi dibesarkan oleh seorang ibu yang luarbiasa. Sejak umur tiga tahun keluarga tidak lagi merasakan hangatnya kasih sayang dan kebijaksanaan dari seorang ayah layaknya orang kebanyakan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ibu saya untuk membesarkan tiga orang anaknya dengan penuh kesabaran. Ibu yang hanya berprofesi sebagai penjual kopi susu disebuah kedai kecil di kampung hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, bersabar dan mendidik anaknya. Meskipun dibesarkan dari keluarga yang sederhana, tapi semangat ibu untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya sangat tinggi karena dengan pendidikan bisa merubah nasib keluarga yang lebih baik dan dengan pendidikan pula kita bisa memberikan kontribusi nyata bangsa ini.

Usaha untuk merubah citra keluarga saya mulai sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) tidak hanya berusaha menjadi terbaik di dalam kelas juga dengan mengikuti dan menjuarai lomba-lomba yang diadakan didaerah saya seperti lomba mengaji dan lomba kepramukaan. Dibangku SMP saya sudah dipercayakan untuk menjadi Ketua Remaja Masjid dilingkungan masyarakat tempat saya tinggal. Sebagai ketua remaja masjid saya dipercayakan sebagai penggerak kegiatan di masjid. Begitupun ketika saya SMA tidak hanya sebagai pemegang peringkat pertama dikelas tapi saya juga sering menjuarai lomba mulai ditingkat sekolah hingga di provinsi seperti OSN Bidang Studi TIK, lomba bognkar pasang senjata dan lomba karya tulis ilmiah . Selain itu saya juga dipercayakan untuk menjadi seorang ketua umum OSIS di SMA selama dua periode dan sebagai penggagas ekstarkurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di SMA Negeri 1 Sinjai Barat. Hal tersebut membawa saya untuk lulus pada jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dan sebagai salah seorang dari 350 penerima Bidikmisi pertama di Universitas Negeri Makassar.

Kesyukuran terbesar saya kepada Tuhan dan terima kasih saya yang tidak terhingga kepada pemerintah Indonesia karena memberikan saya kesempatan untuk mengenyam pendidikan dibangku perkuliahan. Selama dibangku kuliah selain aktif dalam hal akademik yang dibuktikan dengan terpilihnya saya sebagai asisten dosen, saya juga aktif dibeberapa organisasi kemahasiswaan maupun organisasi kemasyarakatan serta banyak mengikuti pelatihan, workshop maupun seminar sehingga apa yang saya dapatkan bisa saya berikan kepada orang banyak. Salah satu oragasasi yang memberikan saya banyak pelajaran adalah Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran UNM. LPM Penalaran UNM adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau organisasi setingkat yang bergelut dibidang penelitian dan keorganisasian, diorganisasi ini saya banyak belajar tentang penelitian, organisasi dan pengabdian masyarakat. Salah satu program pengabdian masyarakat saya jalankan sebagai panitia adalah Bola Macca (Rumah Pintar) dengan membangun rumah panggung sederhana yang dijadikan sebagai pusat belajar sambil bermain anak desa Benteng Kecamatan Camba Kabupaten Maros yang dilengkapi dengan perpustakaan sebagai salah satu upaya mencerdaskan anak bangsa, penuntasan buta aksara dan pemerataan pendidikan di Indonesia tanpa terkecuali didaerah saya sendiri di Kabupaten Sinjai. Selain itu sebagai salah seorang penerima beasiswa Bidikmisi saya juga banyak bergelut dibanyak kegiatan Bidikmisi, salah satunya dengan membentuk sebuah oraganisasi khusus mahasiswa Bidikmisi di UNM yaitu Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi (IKBIM) UNM dan saya dipercayakan sebagai Ketua Umum. Selama menjabat sebagai pengurus IKBIM hingga saya alumni, saya banyak membantu kinerja kemahasiswaan terkhusus dalam hal Bidikmisi juga membuat sebuah program pengembangan minat dan bakat mahasiswa Bidikmisi dan mensosialisasikan program Bidikmisi kepada masyarakat luas hingga daerah terpencil dengan cara penyebaran informasi melalui sosial media, website, dan mengadakan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah. Berkat kemampuan akademik yang bagus dan pengalaman organisasi yang memadai pada tahun 2012 saya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi UNM dan mahasiswa Bidikmisi Berprestasi Nasional.

Salah satu dari Tri Darma Perguruan tinggi selain pendidikan dan penelitian adalah pengabdian masyarakat, dengan pengabdian masyarakat saya bisa memberikan konstribusi dan peranan besar bagi Indonesia. Harapan besar untuk terus mengabdi kepada bangsa ini juga sebagai wujud terima kasih sekaligus untuk membayar hutangku kepada pemerintah dan rakyat Indonesia seperti kata salah seorang motivator beasiswa Tony D Susanto “Beasiswamu adalah hutangmu kepada rakyat Indonesia, karena dengan rupiah demi rupiah pajak Rakyatlah Engkau disekolahkan!”. Untuk itu, saya bercita-cita untuk menjadi tenaga professional dibidang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi, komunikasi dan komputer. Saya berkeinginan mengembangkan teknologi dan media pembelajaran khususnya di daerah saya sendiri di Kabupaten sinjai agar pada siswa bisa lebih mudah dalam melakukan proses pembelajaran di sekolah dan bisa mewujudkan tujuan pembelajaran semaksimal mugkin.

NB: Essay ini saya tulis untuk pendaftaran beasiswa LPDP ditahun 2015.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Aku Hanya Rindu


Wahai rindu kenapa kau begitu menyiksaku..
Aku tahu kau akan mengajarkanku banyak bersabar..
Mengajarkanku lebih fokus..
Mengajarkanku untuk terus berjuang..
Tapi tidakkah kau beri sedikit ruang untukku melihatmu tersenyum..
Sehingga aku bisa ikut tersenyum..
Aku cuma takut akan lupa bagaimana caranya tersenyum..
Atau bahkan aku lupa bagaimana rasanya tersenyum..
Aku hanya rindu, rindu dengan senyummu..


Jumat, 07 Agustus 2015

PEMENANG



Pemenang tidak akan tenang
Jika hanya memandang…
Tapi mereka yang pantang menyerah
dan tak mengenal jerah...
Masalah bukanlah sebuah penghalang
tapi sebuah proses menuju sukses yang tak terbilang...
Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu
tapi Tuhan mau lihat apa usahamu...
Mengeluh akan memuatmu tidur panjang
diatas ranjang yang tak berkaki...
Tapi semangat akan mengantarkanmu

menuju tujuan sebuah kisah yang hangat...


*Borobudur, 7 Juli  2015

Senin, 27 Juli 2015

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #2

Saya terbangun sekitar pukul delapan pagi disaat Hariri dan keluarganya pulang dari Shalat Idh, Astagfirullah saya kesiangan..
Sebelum diantar kembali ke Bandara Juanda saya diajak untuk ikut berkeliling silaturrahmi ke rumah warga setempat sambil melihat bagaimana adat orang Jawa ketika hari lebaran, cukup jauh berbeda menurutku dengan dengan adat yang ada di Kampung halamanku. Adat mereka
Setelah shalat Jum’at disalah satu masjid di Gresik yang isi khutbahnya sepenuhnya menggunakan jawa, saya kembali berkemas dan bersiap untuk kembali ke Bandara di Sidoarjo karena perjalanan dari Gresik menuju Bandara Juanda di Sidoarjo cukup jauh dan saya harus check in selambat-lambatnya jam empat sore. Saya sibuk berkemas, orang tua Hariri juga sibuk mempersiapkan makanan dan minuman saya untuk di Bandara nanti juga oleh-oleh khas Gresik buat keluarga saya di Kampung.
Semuanya sudah beres dan siap untuk berangkat ke Bandara ternyata keluarga Hariri juga ikut mengantar, mulai dari Bapak, Ibu, paman, sepupu dan Hariri sendiri ikut mengantarkan saya ke Bandara. Penghargaan mereka terhadap tamu jauh melebihi dugaan saya, saya salut …
Waktu menunjukkan jam 3 sore akhirnya kami tiba di Bandara Juanda, duduk sejenak dan langsung menuju ke Costumer Service mananyakan perkambangan penerbangan. 
“Permisi mba, saya mau tanya bagaimana dengan perkembangan untuk jadwal penerbangan hari ini?”
“Maas mas, karena banyaknya pembatalan penerbangan maka kami harus menata ulang jadwal penerbangan, mas silahkan reschedule lagi”
Saya reschedule dan ternyata dapat jadwal pukul 20.30 WIB.. waw mundur tiga setengah jam lamanya.
Saya kembali ke rombongan Hariri beserta keluarganya dan memberitahukan tentang perubahan jadwal, Karena pertimbangan masih sangat lama dan mereka juga harus open house di Gresik akhirnya mereka pamit duluan dan langusung kembali ke Gresik. Terima kasih yang tak berujung buat mereka…
Kembali menunggu seperti hari sebelumnya dengan posisi yang tidak jauh berbeda juga. Saya kembali menghubungi kakak yang masih menunggu berita baik dari saya, saya informasikan bahwa jadwal keberangkatan saya mundur lagi. Dia kembali galau dan mulai berpikir untuk pulang lebih awal dari pada menunggu kedatangan saya yang tidak pasti. Tapi saya berusaha terus meminta agar tetap menunggu saya karena tidak ada lagi orang lain yang bisa saya harapkan untuk datang menjemput di Bandara kecuali dia. Dia kembali sepakat untuk tetap menunggu saya..
Setelah shalat maghrib tiba-tiba para penumpang kembali gusar setelah mendengar pemberitahuan dari pihak bandara bahwa Bandara akan kembali ditutup atas perintah langsung dari Menteri Perhubungan via telepon. Berita rencana penutupan Bandara pada pukul 19.00 WIB kembali disiarkan dibeberapa stasiun televisi nasional yang disaksikan oleh keluarga Hariri dan tentunya juga kakak saya yang masih setia menunggu di Makassar.
Secepatnya kembali saya menghadap ke costumer service bandara menanyakan kebenaran isu hangat penutupan bandara yang ramai diperbincangkan oleh para penumpang dan mereka membenarkan hal itu. Kembali harus memilih antara reschedule pemberangkatan atau refund tiket, jika reschedule waktu pemberangkatan yang paling cepat adalah pukul 7.00 WIB tanggal 18 Juli tapi jika refund harus mengurus lagi ke agen online tempat saya beli tiket. Berat rasanya memutuskan harus memilih apa, jika saya pilih reschedule lagi berarti saya bisa berangkat dihari berikutnya itu pun belum ada kepastian apakah ada penerbangan ataukah bandara akan ditutup lagi, jika saya pilih refund berarti saya bisa berganti mode transportasi dari Pesawat terbang ke Kapal Laut atau Kereta Api menuju salah satu kota yang bandaranya aman. Saya memutuskan untuk berpikir tenang dan keluar dari ruangan Costumer service..
Selanjutnya saya mencoba mencari kejelasan dari pihak lain yaitu ke maskapai penerbangan yang saya pakai saat itu yaitu Citilink. Kembali menanyakan kejelasan penutupan bandara, dia juga membenarkan hal tersebut tapi informasi resmi dalam bentuk surat pemeberitahuan dari kementerian perhubungan belum datang masih sebatas via telepon jadi saat itu belum ada kejelasan apakah bandara kembali ditutup atau akan tetap ada penerbangan malam itu.
Panggilan masuk pertama dari keluarga Hariri yang kembali gelisah karena melihat berita penutupan bandara lewat televisi di rumahnya. Panggilan kedua dari Kakak saya Yasmin yang sudah galisah maksimal dan sudah dua hari mendekam dikamar menunggu informasi pemeberangkatan terbaru dari saya. Saya hanya berusaha menenangkan mereka bahwa informasi penutupan bandara belum jelas dan masih ada harapan untuk bisa berangkat malam itu. Khusus kakak saya, kami sepakat kalau malam itu delay lagi maka saya membiarkan dia untuk kembali ke kampung lebih awal.
Harap-harap cemas masih menghantui pikiran saya malam itu dan belum bisa memutuskan apakah harus memilih reschedule atau refund, yang bisa saya lakukan adalah saya masih bersedia menunggu selama beberapa jam terkait informasi baru apakah bandara akan ditutup lagi ataukah akan ada pemberangkatan.
Sempat terjadi adu argument dan aksi pukul meja dari beberapa penumpang saat itu yang sudah habis kesabaran karena sudah dua hari lamanya menunggu pesawat yang tak kunjung berangkat dan harus menunggu lagi jika bandara ditutup sedangkan beberapa rute sudah ada yang berangkat dan menurut informasi dari ATC (Air Traffic Controller) atau Pemandu Lalulintas Udara bahwa lalulintas penerbangan malam itu aman-aman  saja. Sebagian penumpang khususnya dari Makassar masih tetap mengadakan negoasiasi dengan pihak kementerian perhubungan dan saya berinisiatif bersama beberapa penumpang lain untuk audiensi dengan pihak reporter televisi nasional. Setelah sepakat untuk on air satu jam kedepan dengan salah satu pihak media yang bersedia menyiarkan keluhan kami dengan harapan ada desakan bagi pihak bandara dan pihak kementerian untuk segera mengambil keputusan pasti apakah bandara jadi ditutup ataukah akan ada penerbangan.

Kami kembali kerombongan penumpang yang sedang melakukan negosiasi dan tidak lama setelah itu akhirnya ada titik terang dari pihak bandara bahwa pada malam itu pihak bandara akan tetap mengadakan pemberangkatan. Pesawat saya berangkat tepat pada jadwal yang saya minta sebelumnya yaitu pukul 20.30 WIB meskipun sudah banyak kursi yang kosong karena sudah banyak yang melakukan reschedule dan refund.  Alhamdulillah tiba dengan selamat di Bandara Hasanuddin – Makassar tepat pukul 23.00 WITA. Dan bisa pulang kampung dengan tenang bersama kakak esok paginya… 

Cerita dibalik Mudik dan Erupsi Gunung Raung #1


“Harapan untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung menyambut hari kemenangan, justru jadinya hari raya di Kampung orang…”

Hari itu saya bergegas lebih awal dari pada biasanya berharap semuanya sesuai dengan rencana. Jadwal keberangkatan pesawat saya mestinya pukul 17.05 WIB tanggal 16 Juli 2015 melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya, tapi saya memilih untuk berangkat pagi meniggalkan Kampung Inggris di Desa Tulungrejo Pare – Kediri.

Pembatalan tiket kereta Api, Jalan-jalan kota Surabaya sambil cari oleh-oleh adalah rencana awal sebelum ke Bandara di Sidoarjo. Tiba di Bandara pukul 13.00 WIB saya rasa waktu yang masih sangat lowong dan belum bisa melakukan check in. Saya berputar-putar mencari ATM Center dan Mushallah di lokasi bandara dan akhirnya ketemu juga.. Setelah meninggalkan Mushallah saya menuju kursi pemberangkatan penumpang. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa Bandara Internasional Juanda ditutup untuk sementara karena debu vulkanis yang disemburkan Gunung Raung di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menghalangi jalur penerbangan dan bandara akan kembali dibuka pada pukul 20.30 WIB yang harus membatalkan kurang lebih 140 penerbangan. Tidak ada pilihan lain kecuali sabar menunggu kabar baik dari pihak bandara. 


Penantian yang menurutku sangat melelahkan tapi juga cukup menguji kesabaran ketika pengumuman kedua diumumkan oleh pihak Bandara bahwa pada malam itu tidak ada penerbangan karena bandara belum memungkinkan untuk dibuka. Hanya dua pilihan; Rechedule (atur ulang jadwal) atau pembatalan tiket dan uang dikembalikan (refund), saya tetap bertahan menunggu pesawat sampai bisa berangkat dan saya memilih untuk reschedule ke waktu yang tercepat tapi jadinya dapat pukul 17.05 WIB lagi. 

Kemungkinan bandara akan terbuka buka pagi (17/7/15) pukul 07.00 WIB. “Yah apa boleh buat semua akan ada hikmahnya” hiburku dalam hati. Tapi bagaimana dengan kakakku yang sudah menunggu dan siap untuk menjemput kedatangan saya di Bandara? Saya tahu betapa gusarnya dia ketika melihat berita di televisi bahwa Bandara Juanda tutup ditambah kabar dari saya bahwa tidak ada kemungkinan untuk bisa kembali lebaran di kampung. Dia punya istri dan anak bayi di kampung yang menunggu kepulangannya, terlebih karena dia yang dipercaya untuk belanja bahan makanan untuk lebaran. Sungguh dilemanya dia malam itu lewat suaranya yang berat dan terbata-bata saat saya berkomunikasi suara via handphone. Namun akhirnya dia tetap bersedia menunggu saya. 

Saya berusaha menghubungi beberapa kenalan yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Sebagian besar diantara mereka tidak memiliki kendaraan pribadi dan jarak rumahnya dari bandara cukup jauh. 
Tidak ada pilihan lain kecuali ikut bermalam dibandara bersama penumpang lain yang juga harus menerima nasib untuk tidak lebaran di kampung halaman. Menginap di hotel bandara bukan kelas saya yang hanya pekerja serabutan di Kota Makassar, makanan di bandara pun saya katakan bukan harga makanan sekelas saya yang mungkin sekali makan di bandara sudah sebanding dengan makan enam kali di Kota Makassar. Saya sudah banyak belajar tentang kesabaran dan perjuangan hidup yang mungkin ini belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah saya lewati membuat saya lebih tenang sambil sesekali memandangi beberapa penumpang yang harus mengalirkan air mata kesedihannya sambil duduk memegang handphone yang didekatkan di telinga kanannya.  
Duduk melantai sambil sandaran di tembok dekat sumber listrik dengan headphone yang terpasang menutupi kedua daun telinga dan mendengarkan musik adalah posisi paling nyaman saya saat itu…
Pukul 23.00 WIB Tiba-tiba notif handphone berbunyi bertanda BBM masuk dari Hariri teman peserta Temu Bidikmisi Nasional di Unhas yang juga pernah datang ke kampung Inggris dan saya fasilitasi kamar penginapan di asrama saya.

“Bang, nginap dimana? Maaf baru baca pesannya”
“Tidak ada pilihan lain kecuali nginap di bandara dek 
“Bagaimana kalau bermalam di rumahku saja di Gresik”
“Saya belum tahu jalan ke sana dek lagi pula jarak Bandara ke sana saya lihat di Google Map lumayan jauh, dan bisa menghabiskan waktu dua jam untuk tiba disana” 
“Naik damri bandara saja bang yang langsung menuju gresik, nanti saya jemput di Terminal Bunder Gresik”
“Baiklah saya coba cari dulu busnya..”

Bolak balik mencari informasi dan bertanya tentang transportasi menuju terminal Bunder Gresik dan katanya dari bandara tidak ada kendaraan yang langsung menuju Gresik mesti ke terminal Purabaya-Bungurasih dulu kemudian ambil bus jurusan Semarang atau Jurusan Perak kemudian di Perak harus menunggu angkutan umum yang menuju ke terminal Bunder..
Malam semakin larut, mata semakin sayu dan letih semakin menjadi-jadi, hanya semangat yang melekat dalam diri saya malam itu. Mengangkat koper berat berisi buku dan barang lainnya naik turun bus adalah hal yang paling melelahkan saat itu…
Jam tangan hitam dilengan kiri saya sudah menunjukkan Pukul 00.05 WIB saya tiba di Perak dan harus jalan kaki sekitar 200 meter menuju pertigaan tempat menunggu angkutan umum arah Gresik tapi setelah bertanya dengan orang yang saya temui tidak jauh dari tempat itu katanya sudah jarang ada angkutan umum untuk malam selarut ini bahkan tidak ada lagi karena besok sudah lebaran.

Saya mencoba untuk menghubungi Hariri dan dia bersedia untuk menjemput ditempat saya menuggu, hampir satu jam menunggu di tempat yang sepi itu akhirnya Hariri tiba bersama kakaknya dengan menggunakan mobil Terrios. Akhirnya bisa melepas lelah juga .. cepatnya mobil dan lurusnya jalur Pantura (Pantai Utara) menuju Gresik membuat saya tertidur dan terbangun setelah mobil tiba tepat di depan rumah Hariri. 

Jumat, 24 Juli 2015

SAYA HANYA INGIN PULANG


Mengakhiri petualangan di Pulau Jawa saya berencana untuk kunjungan silaturrahmi ke rumah keluarga di Kota Jakarta, yah kota yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu.  

Entah kenapa meskipun dengan alasan saya yang tidak begitu jelas tiba-tiba ada dorongan yang begitu kuat dari benak saya untuk lebih memilih pulang ke kampung halaman dari pada tinggal menghabiskan waktu di tanah Jawa naik turun kereta api dari stusiun A ke stasiun B, dari bus A ke bus B, dari angkot A menuju angkot B membawa perlengkapan pribadi yang lumayan banyak dan juga menghabiskan isi rekening yang sudah semakin menipis. Mungkin juga karena ada rindu yang begitu dalam untuk kumpul bersama orang tua dan saudara atau rindu kepada orang cantik kedua yang begitu membara. Intinya saya mau pulang…


Tiket kereta api dengan tujuan perjalanan dari Stasiun Pasar Turi (Surabaya) ke Stausiun Pasar Senen (Jakarta) pulang pergi telah saya bayar jauh hari sebelumnya meskipun juga saya telah booking tiket penerbangan Surabaya menuju Makassar.




Malam sebelum pulang rencanya numpang menginap ditempat kost-an Hasbi sahabat saya si pemilik rambut kribo dengan alasan lebih mudah dan lebih dekat menunggu bus menuju terminal Purabaya di Bungurasih Surabaya tapi malah di bawa ke tempat kursusnya di English Studio yang jaraknya cukup dekat dari tempat kost-nya. Hanya butuh beberapa detik berdiri disebuah pertigaan, bus patas tujuan Surabaya tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di depan saya. Ketika naik diatas bus yang ada dalam benak saya hanya urutan rute perjalanan setelah tiba di terminal Bungurasih;  Setiba di terminal saya harus cari bus menuju Stasiun Pasar Turi, setelah itu melakukan pembatalan tiket kereta api, naik bus keliling kota Surabaya sambil hunting oleh-oleh buat pulang dan terakhir menuju Bandara Juanda di Sidoarjo.

Tiba di terminal dengan wajah polos dan dihujani para pemilik jasa transportasi mulai dari Damri, taksi, mobil travel, juga ojek. Lama menunggu bus menuju Stasiun Pasar Turi akhirnya saya memutuskan untuk menerima salah satu tawaran tukang ojek dengan catatan sepakat dengan rencana rute perjalanan yang saya mau. Sepakat rute, sepakat dengan besaran bayaran..

Perjalanan dengan jasa ojek dimulai dari terminal dengan koper ukuran kecil didepan, ransel di punggung dan kantongan pakaian jinjing di tengah.. jalan pak !!!

Jarak menuju stasiun dari terminal cukup jauh tapi untung tidak macet. Tiba di stasiun Pasar Turi yang yang sudah dibanjiri oleh para mudiker-mudiker lebaran dan tentunya banyak juga diantara mereka rela berdesak-desakan hanya untuk membatalkan tiket perjalanan seperti saya. Cetak tiket, Mengisi form pembatalan tiket dan antri menunggu giliran nomor antrian dipanggil memakan waktu hampir dua jam dan pastinya masih bersama tukang ojek. Pembatalan tiket sudah kelar meskipun uangnya akan di refund (dikembalikan) via rekening memakan waktu paling cepat sebulan setelah pembatalan ditambah dengan potongan 25% dari harga tiket sebagai biaya administrasi katanya.


Rute selanjutnya adalah keliling kota Surabaya plus hunting buah tangan. Tapi karena merasa kasihan dengan tukang ojek yang pastinya akan menunggu lama lagi akhirnya saya memutuskan hanya ingin mampir sejenak untuk mengabadikan moment di Patung Suro (hiu) dan Boyo (buaya) tepat di depan Wisata Kebun Binatang Surabaya. Lima belas menit saya rasa sudah cukup lama untuk main ditempat itu..



Rute terakhir menuju Bandara Domestik Juanda Surabaya, namanya saja Surabaya tapi bertempat di Sidoarjo tapi jarak tempuhnya dari Kota Surabaya menuju Sidoarjo tidak sampai menghabiskan air mata karena hembusan angin yang begitu kuat tapi membuat bibir kering karena panas dan hembusan angin.

Followers

Terima Kasih atas kunjungan anda, Jangan lupa Follow, dan komentarnya !!!